Tips Mengatur Keuangan Pribadi Jika Terjadi Resesi Ekonomi karena Pandemi

  • Whatsapp
Mengatur Keuangan Pribadi

Seiring dengan dampak yang ditimbulkan dari pandemi Corona, resesi ekonomi menjadi hal yang diprediksi bakal terjadi di Indonesia sejak 3 bulan terakhir. Menyusul negara tetangga seperti Singapura dan Filipina, serta tujuh negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Italia, Perancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Berita ini mungkin sudah familiar dan santer terdengar oleh kita semua, baik lewat media online maupun di media sosial.

Tapi sebenarnya, apa sih yang dimaksud resesi ekonomi?

Secara singkat, resesi ekonomi adalah sebuah kondisi di mana aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan atau bahkan minus selama berbulan-bulan atau atau dua kuartal berturut-turut. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonomi pada bulan April sampai Juni 2020 telah tercatat mengalami penurunan atau minus 5,32%. Jika makin negatif hingga September 2020, maka artinya, kondisi ekonomi Indonesia berada di ambang resesi.

Angka kontraksi tersebut meleset dari yang pernah diprediksi oleh Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani yaitu -3,8% di kuartal II.

Apa dampak yang timbul jika benar terjadi resesi? Secara umum, ada lima dampak utama resesi ekonomi, yaitu: (1) Banyaknya masyarakat yang kehilangan pendapatan karena perusahaan yang melakukan PHK atau tidak bisa bertahan; (2) Daya beli masyarakat menjadi turun; (3) Kurs dollar yang tidak stabil & tingginya suku bunga; (4) Nilai aset investasi yang menurun; (5) Berpotensi terjadi inflasi.

Kondisi yang tidak pasti ini memang bikin paranoid dan panik. Namun, jangan khawatir berlebihan. Sebab, ada cara yang bisa kita lakukan untuk bertahan terutama dalam hal mengatur keuangan. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini adalah tips & cara yang bisa dilakukan.

Berusaha pertahankan dan tingkatkan penghasilan

Bisa dibilang, pandemi berdampak pada segala segmen masyarakat dari sisi ekonomi, baik itu pengusaha maupun pekerja. Supaya dapur tetap ngebul dan bisa mempersiapkan tabungan darurat, yang perlu kita lakukan adalah berupaya mempertahankan penghasilan yang dimiliki saat ini. Bukan waktunya untuk mengeluh soal kenaikan gaji yang tak kunjung tiba atau bonus yang tak kunjung cair. Selama penghasilan masih normal, kita perlu bersyukur & memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Kondisi ini juga tidak mudah bagi banyak segmen usaha, apalagi di bidang pariwisata dan food beverage. Buat kamu yang menjalankan usaha namun terdampak pandemi, segera pertimbangkan opsi untuk pivot atau mencari alternatif lain dalam menjajakan dan mempromosikan produk yang kamu jual. Kalau perlu, kamu harus masif menggunakan media sosial.

Giat menabung dan menyiapkan dana cadangan

Jika sebelumnya kebutuhan primer memakan anggaran paling besar atau sekitar 50% dari jumlah penghasilan, kali ini kamu perlu mengutamakan tabungan dan dana cadangan. Untuk makan dan belanja kebutuhan, kalau bisa dikurangi dan dihemat-hemat. Jangan lagi tunggu sampai ada sisa uang untuk menabung. Segera sisihkan 5% – 10% dari jumlah penghasilan untuk masuk ke tabungan. Toh uangnya akan berguna untuk diri sendiri jika sewaktu-waktu ada kondisi darurat.

Tidak mengambil kredit dalam jumlah besar

Berencana mengambil KPR? KTA buat biaya nikah? Kredit mobil atau motor? Atau bahkan kredit HP tanpa uang muka? Di masa pandemi, sebaiknya pikirkan ulang niat untuk mengambil kredit dalam jumlah besar dan tenor yang lama. Apalagi kalau kondisi keuangan sedang tidak stabil. Jangan memaksakan pesta pernikahan karena tuntutan. Jangan kredit mobil atau motor demi gengsi. Kalau pun dibutuhkan, sebaiknya tunggu hingga keadaan benar-benar aman atau gunakan fasilitas kredit yang suku bunganya paling rendah.

Contohnya, jika butuh kredit HP tanpa uang muka untuk mendukung pekerjaan di rumah atau anak sekolah, tidak perlu pilih yang mahal. Sebab, HP dengan kisaran harga Rp 1 juta sampai Rp 2 jutaan biasanya sudah memiliki spek mumpuni untuk menjalankan berbagai aplikasi kerja atau online learning seperti Zoom. Makin rendah nominal transaksi, angsurannya akan makin ringan. Apalagi kalau kita menggunakan fasilitas kredit online yang berbunga rendah seperti Kredivo. Hanya 2,6% per bulan untuk kredit HP tanpa uang muka dengan pilihan tenor 3, 6, sampai 12 bulan.

Dengan Kredivo, kredit HP tanpa uang muka bisa dilakukan di 350 lebih e-commerce & merchant: ada Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, Electronic City, Xiaomi, dan masih banyak lagi.

Fokus selesaikan utang atau cicilan yang bunganya tinggi

Buat kita yang masih punya penghasilan stabil dan punya tanggungan utang atau cicilan yang masih berjalan, sebaiknya tetap fokus membayar angsurannya sampai lunas. Kalau ada dana lebih dan tenornya tinggal sedikit lagi, bisa juga dilunasi segera supaya beban keuangan bisa berkurang. Supaya kondisi keuangan tetap sehat di tengah pandemi, pastikan persentase utang yang dimiliki tidak lebih dari 30% jumlah penghasilan. Makin kecil persentase utang kita, tentu semakin baik.

Tetap belanja seperlunya untuk bantu dorong perekonomian

Selama pandemi, berhemat pengeluaran memang sangat disarankan. Namun, untuk mendorong perekonomian tetap berjalan, kita juga perlu belanja. Kalau punya teman yang jualan, bisa kita beli produknya untuk membantu bisnisnya tetap bertahan. Kalau belanja di pasar tradisional, usahakan jangan menawar apalagi secara berlebihan. Kalau nggak sempat masak di rumah, kita bisa beli makanan yang dijual di sekitar kompleks rumah seperti nasi goreng, sate ayam, ketoprak, dan lain-lain. Dengan begitu, meski kecil & nggak seberapa, kita turut membantu melancarkan usaha orang lain dan mendorong ekonomi untuk tetap berputar.

Yuk sama-sama kita saling membantu agar semua bisa bertahan dan melewati kondisi ini dengan baik. 🙂